Langsung ke konten utama

#2

Minggu kedua. Tidak tahu kenapa waktu terlalu cepat sedangkan tubuh makin berkarat.
Apakah tumbuh dewasa terlalu prematur? sedangkan masa-masa menyenangkan makin tenggelam dalam kubur. 
Dimana Tuhan menyimpan masa-masa menyenangkan? kalaupun saya meloncat ke dimensi paralel, apakah kehidupan disana juga akan semenakjubkan petualangan Edward Elric?

Saya memutar salah satu anime lama, dimana disetiap akhir episodenya ada seorang laki-laki yang selalu bertanya, "do you have memories you don't want to forget?"

hah, saya ingin sekali menjawabnya, tapi makin saya berpikir, saya makin sakit karena ternyata belum ada memori yang benar-benar hebat dalam hidup saya. semuanya terlalu biasa. terlalu sederhana, dan saya tahu bahwa ungkapan bahagia itu sederhana adalah ungkapan paling munafik sekaligus naif yang pernah saya kenal.

waktu-waktu uzur, kalaupun saya kembali menggali kubur kenangan, satu hal yang yang saya rindukan adalah masa-masa tersulit dan getir yang pernah ada. Saya juga tidak tahu mengapa, justru kenangan paling ekstrim ini yang saya rindukan. Ketika bertengkar dengan *** kabur malam-malam dengan orang yang bahkan tidak saya kenal, lalu menuju ke rumah seseorang yang paling ingin saya tulis di dalam Death Note.
Justru karena itu, masa lampau sekaligus masa-masa tersulit adalah masa paling dewasa yang pernah saya rasa. Sekarang, saya tidak tahu apa saya masih seberani masa-masa bodoh dan konyol tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dan hidup, terbuat dari kematian orang lain yang tidak membisu.

Seperti sekarang, yang tersisa dari kenangan di jalan Enggang dua nomor dua hanyalah kesedihan, atau mungkin bisa disebut penyesalan. Apabila kita tidak pindah, apakah keadaan akan berubah?Apakah rencana kematian dapat diubah? Berawal dari kegilaan hidup yang nomaden, nasib mempertemukan kami dengan keluarga kecil di Enggang dua.   Satu kepala keluarga yang arif bijaksana, berkumis, ramah, tanpa lupa berwibawa. Satu ibu rumah tangga yang cantik jelita, lembut, dan terlalu baik, hingga kadang, batas ketegasannya luntur disana. Kami jarang dimarahi, walaupun kamar sempit itu sering kali berisik, dindingnya kerap sekali bergerak, kipas anginnya kerap kali begertak, dan banyak suara mencak-mencak. Kami terlalu rusuh untuk menetap di keluarga yang kini makin sunyi. Tanpa anak kesayangan mereka, tanpa seseorang yang tanpa sengaja telah menjadi 'adik' bagi kami, Ridho. Malam, 23 Sepetember Sebenanrnya ketakutan untuk menguak kesedihan lama menjadi alasan, kenapa kami ragu u...

Songs that Helped Me Survive 2020

1. A Lady of a Certain Age - The Divine Comedy. 2. Ode To the Mets - The Strokes

Umi Tami

Umi Tami Umi Tami mungkin adalah salah satu bukti atas nama “budaya kerajaan.” Umi Tami juga mungkin, tidak akan pernah tersentuh atas nama sejarah. “Nama saya Tami,” katanya, dengan tekanan dialek Jawa. Ia berdiri saja. Pandangannya pada pengunjung Istana Siak.  Ia berdiri tepat depan istana peraduan, dimana ia dulunya setia melayani kebutuhan air mandi dan minum Sultan terakhir  Siak, Sultan Syarif Kasim. Umi Tami mungkin, tokoh sampingan. Jika kesultanan Siak diberi judul sejarah, para aktornya adalah sultan dan bangunan. Bangunan menua, umi Tami juga. Tapi siapa yang mau bertanya sejarah? Siapa yang mau memperdebatkan, “Kenapa raja ataupun sultan tidak bisa mengambil air mandinya sendiri?” Budaya kerajaan tak pernah lepas dari penundukan, dan, sialnya, kebanyakan perempuan adalah tumbal. Para penari keraton, seperti dikisahkan Rachmi Diyah Larasati dalam The dance that Make You Vanish , mungki...